Minggu, 24 Desember 2017

Knowledge Management/Manajemen Pengetahuan...

Pendahuluan

Manajemen Pengetahuan (MP) dalam beberapa tahun terakhir ini menjadi suatu isu hangat bagi para profesional informasi dan perpustakaan. Banyak praktisi dari berbagai disiplin bersekutu dalam merangkul disiplin baru ini (Srikantaiah, 2000:1). Tingkat ketertarikan, pandangan, dan interpretasi mereka tentang MP tergantung pada lingkungannya yang mereka refleksikan dalam berbagai literatur. MP didefinisikan sesuai dengan kebutuhan masing-masing. Shouton and Todd (2001) menyatakan bahwa definisi MP masih terbuka dan adakalanya sangat problematis. Bahkan sejumlah penulis memandang bahwa MP masih merupakan suatu bidang yang sulit untuk diimplementasikan, yang masih memerlukan eksplorasi dan pengembangan yang signifikan.

Konsep MP berasal dan berkembang di dunia bisnis. Sebagai suatu konsep, MP diterapkan dengan tujuan untuk meningkatkan dan memperbaiki pengoperasian perusahaan dalam rangka meraih keuntungan kompetitif dan meningkatkan laba. MP digunakan untuk memperbaiki komunikasi di antara manajemen puncak dan di antara para pekerja untuk memperbaiki proses kerja, menanamkan budaya berbagi pengetahuan, dan untuk mempromosikan dan mengimplementasikan sistem penghargaan berbasis kinerja (Teng and Hawamdeh, 2002). MP kemudian juga dikembangkan dan diterapkan pada organisasi nirlaba seperti institusi pemerintah dan organisasi badan hukum lainnya. Di lingkungan perpustakaan, MP dipersepsikan mampu meningkatkan peran pustakawan secara substansial untuk mendukung program institusi induknya.

Perkembangan teknologi informasi khususnya Internet yang telah menjadi bagian integral dari kehidupan sehari-hari, membuat perilaku masyarakat pencari informasi mengalami banyak perubahan dan penyesuaian (Leng, 2004). Sumber daya elektronik yang tersedia melalui Internet menjadi sasaran pertama bagi para pencari informasi. Perpustakaan, yang secara tradisional merupakan penyedia utama sumber daya informasi, dihadapkan pada tantangan baru untuk menyediakan informasi yang relevan dan tepat waktu serta berasal dari banyak sumber. Dengan kata lain, perpustakaan ditantang untuk menyediakan seluruh spektrum informasi, tidak hanya terbatas pada pengetahuan eksplisit seperti yang telah dilakukannya selama ini. Pustakawan perlu mengeksplorasi konsep MP untuk diterapkan di lingkungan kerja perpustakaan untuk memenuhi tantangan baru tersebut.


Pengertian Manajemen Pengetahuan

Tema utama sejumlah penulis dalam berbagai literatur tentang MP adalah perihal kekaburan konsep manajemen informasi (MI) dan MP. Sejumlah profesional informasi dan perpustakaan yang disurvai oleh Shouton and Todd (2001), menganggap bahwa MP sederhana adalah ”MI dengan jubah baru” atau ”perluasan MI” atau ”MI yang diberi label menggairahkan”. Pustakawan masih percaya bahwa MP adalah pengelolaan informasi dan pengetahuan eksplisit atau terdokumentasi yang telah mereka lakukan sejak dulu (Koina, 2004). Chun (1995) mengatakan bahwa MI konsentrasi pada informasi formal, terstruktur, data internal, meninggalkan informasi informal, tidak terstruktur, dan eksternal yang dibutuhkan oleh banyak para pengambil keputusan.

Shouton and Todd (2001) lebih lanjut mengatakan bahwa terdapat perbedaan karakteristik di antara keduanya. MI digambarkan sebagai istilah yang bersifat teknis dan berorientasi pada pelayanan seperti: pengorganisasian informasi, proses dan sistem, akses terhadap informasi dan penyediaan informasi, serta temu-balik – suatu prakarsa yang dilakukan oleh organisasi. Sebaliknya, MP digambarkan sebagai istilah yang memiliki karakteristik yang berpusat pada manusia: berbagi pengetahuan, pemahaman, modal intelektual, interaksi, enabling people, dan penggunaan – suatu prakarsa yang menyangkut manusia di dalam organisasi.

Di sisi lain, banyak penulis yang menyarankan agar pemisahan menyeluruh antara MI dan MP harus dihindarkan. Mereka mengatakan bahwa MI yang efektif adalah penting bagi MP. Penekanan pada nilai pengetahuan tacit sebagai upaya besar yang tidak sukses dilakukan sejak 1980-an oleh mereka yang bergerak di bidang Kecerdasan Buatan dan Sistem Pakar untuk mengkodifikasi pengalaman dan keahlian pekerja. Persoalannya adalah bagaimana keahlian, pengalaman dan persepsi seseorang dapat ditransformasikan ke dalam pengetahuan yang dapat dibagi kepada orang lain untuk kepentingan organisasi. Sejumlah penulis juga sependapat bahwa pengetahuan tacit adalah sangat sulit atau bahkan tidak mungkin untuk diakses, dan mengelola pengetahuan sesungguhnya adalah mengelola pengetahuan eksplisit.

Walaupun definisi MP sangat beragam, tetapi pada umumnya menekankan pada pembedaannya dari manajemen informasi (Shouton and Todd, 2001). Definisi yang dibuat oleh Garner Group (Koina, 2004), dapat dijadikan sebagai panduan dasar. MP didefinisikan sebagai suatu disiplin yang mempromosikan suatu pendekatan terintegrasi terhadap pengidentifikasian, pengelolaan dan pendistribusian semua aset informasi suatu organisasi. Selanjutnya disebutkan bahwa informasi yang dimaksud meliputi database, dokumen, kebijakan dan prosedur dan juga keahlian dan pengalaman yang sebelumnya tidak terartikulasi yang terdapat pada pekerja perorangan. Saffady (2004:21) menyebutkan bahwa prakarsa MP menekankan pada nilai modal intelektual suatu organisasi termasuk: temuan baru, paten, rahasia dagang, formulasi produk, kecerdasan pelanggan, dan proses bisnis yang mapan. MP berkaitan dengan pengetahuan eksplisit, yang dikodifikasi dalam dokumen dan database, dan pengetahuan implisit, yang berwujud dalam pendidikan dan keterampilan pekerja.

MP juga memiliki hubungan erat dengan manajemen rekod (MR). Dari perspektif MP, informasi terekam adalah suatu perwujudan penting modal intelektual suatu organisasi. Informasi terekam adalah manifestasi utama pengetahuan eksplisit, yang diinternalisasikan dalam dokumen dan tempat penyimpanan data. Konsep dan aktivitas MR melengkapi dan mempromosikan MP. Dengan melakukan pengawasan sistematis terhadap siklus hidup informasi terekam, MR membuka jalan bagi MP. Prakarsa MP yang berhasil, merupakan persyaratan dan memperkokoh kepentingan strategis dan operasional kebijakan dan prosedur MR yang efektif (Saffady, 2004:21).

read more....



Tidak ada komentar:

Posting Komentar