Senin, 25 Desember 2017

Contoh Knowledge Spiral (SECI) dalam Keseharian Blogger


Socialization : Transfer knowledge dari satu individu ke individu lainnya dalam bentuk tacit knowledge. Disebutkan bahwa Socialization muncul dari aktivitas “berbagi dan menciptakan pengetahuan tacit melalui pengalaman langsung”.
Contoh: Dalam perkuliahan akan terjadi proses Socialization antara pengajar/dosendengan para blogger dan rekan mahasiswa lainnya.

Externalization : Transformasi knowledge dari bentuk Tacit ke bentuk Explicit. Dengan externalization, pengetahuan tacit yang ada dalam diri individu dikeluarkan dan diformulasikan ke dalam media lain yang dapat dengan mudah dipelajari oleh individu lain.
Contoh: Setelah selesai melakukan proses perkuliahan dan proses Socialization sudah terjadi, hal selanjutnya adalah Eksternalization yaitu perubahan dari pengetahuan tacit ke pengetahuan eksplisit, pada tahap ini terjadi proses pendokumentasian, dari pengetahuan yang diberikan oleh dosen, blogger dan rekan mahasiswa lainnya mencatat setiap apa yang disampaikan oleh dosen sehingga dapat dibagikan dengan orang lain.

Combination : Mengorganisasi kumpulan Explicit knowledge ke dalam satu bentuk media yang lebis sistematis, melalui proses penambahan knowledge baru, kombinasi dan kategorisasi pengetahuan yang telah terkumpul.
Contoh: Pada tahapan combination ini, terjadi persatuan antara beberapa eksplisit knowledge, seperti ketika materi yang disampaikan oleh dosen sudah dicatat oleh blogger dan rekan mahasiswa lainnya, kemudian para siswa ingin menggali lebih dalam materi yang disampaikan pada pembelajaran kemudian melakukan pencarian sumber lain seperti pada papper, jurnal ilmiah dan lain-lain untuk di jadikan sebagai bahan ajaran tambahan atau pembanding yang nantinya menjadi satu kesatuan pengetahuan eksplisit.

Internalization : Tranformasi knowledge dari bentuk Explicit ke bentuk Tacit. Contohnya dengan proses belajar yang kemudian diikuti dengan ‘learning by doing‘ yang lambat laun membentuk pengetahuan baru dalam diri individu.
Contoh: Setelah penyatuan antara beberapa pengetahuan eksplisit, hal selanjutnya adalah, akan munculnya tacit yang baru, dan tacit tersebut akan melalui proses dari awal yaitu sosialization.


KNOWLEDGE SPIRAL (SECI)

SECI atau Knowledge Spiral adalah formula yg di buat oleh Ikujiro Nonaka. Lkujiro Nonaka dan Hirakata Takeuvchi (1995), menganggap bahwa pengetahuan merupakan suatu hal yang dinamis dan dapat berubah bentuk antara Tacit dan Explicit. Mereka kemudian mengusulkan suatu model dalam proses penciptaan pengetahuan, yang kemudian memungkinan organisasi untuk mengelola proses tersebut secara efektif. Mereka mengajukan empat langkah penciptaan pengetahuan disebut model SECI atau Socialization, Externalization, Combination, dan Internalization.



  • Socialization : Transfer knowledge dari satu individu ke individu lainnya dalam bentuk tacit knowledge. Disebutkan bahwa Socialization muncul dari aktivitas “berbagi dan menciptakan pengetahuan tacit melalui pengalaman langsung”.
  • Externalization : Transformasi knowledge dari bentuk Tacit ke bentuk Explicit. Dengan externalization, pengetahuan tacit yang ada dalam diri individu dikeluarkan dan diformulasikan ke dalam media lain yang dapat dengan mudah dipelajari oleh individu lain.
  • Combination : Mengorganisasi kumpulan Explicit knowledge ke dalam satu bentuk media yang lebis sistematis, melalui proses penambahan knowledge baru, kombinasi dan kategorisasi pengetahuan yang telah terkumpul.
  • Internalization : Tranformasi knowledge dari bentuk Explicit ke bentuk Tacit. Contohnya dengan proses belajar yang kemudian diikuti dengan ‘learning by doing‘ yang lambat laun membentuk pengetahuan baru dalam diri individu.

Minggu, 24 Desember 2017

Contoh Pengetahuan Tacit dan Eksplisit dari Pengalaman Blogger

Pengetahuan Tacit

Pengalaman dalam hidup saya yang termasuk ke dalam Pengetahuan Tacit adalah ketika saya pribadi untuk pertama kali memahami sepak bola, mini soccer dan futsal. Berawal disaat saya kecil mulai tertarik dengan olahraga sepak bola, dari situ saya mendapatkan pengetahuan mengenai bagaimana aturan dilapangan melalui pertandingan-pertandingan yang saya saksikan melalui televisi dan dari komentar-komentar orang-orang sekitar yang seakan-akan memberikan arahan kepada para pemain di lapangan hijau. Selepas itu masuklah saya pada masa dimana banyak anak-anak yang mulai ikut bermain sepak bola namun dalam kondisi yang lebih kecil, yaitu mini soccer, secara peraturan dasar memang tidak terlalu berbeda dengan sepak bola pada umumnya, tetapi ada beberapa perbedaan yang terdapat pada mini soccer. Begitu juga dengan futsal, dari kesemuanya saya sudah mencoba nya dan lebih memilih untuk bermain futsal ketimbang sepak bola dan mini soccer. Naah, pada tulisan di atas pengalaman yang di alami oleh blogger di sebut pengetahuan tacit di karenakan, ilmu pengetahuan di dapat dan di pelajari berdasarkan pengalaman yang kita lihat, rasakan dan kita lakukan.

Pengetahuan Eksplisit

Pengalaman eksplisit pada kehidupan blogger berlanjut dari pengalaman blogger pada pengetahuan tacit. Bila pada pengetahuan tacit blogger hanya mendapat pengetahuan dengan hanya melihat, melakukan dan merasakan, pada pengetahuan eksplisit blogger mendapatkan pengetahuan langsung dari sang ahli. Pada contoh ini blogger mendapat pengetahuan eksplisit melalui pelatih futsal yang memberikan pengetahuan yang berdasarkan teori dan taktik yang terdokumentasi pada buku panduan, tutorial, yang dituangkan langsung pada setiap momen latihan.

Dari kedua contoh diatas, dapat di simpulkan:
Pengetahuan Tacit adalah pengetahuan yang belum terdokumentasi, seperti mendengar perkataan, mempraktekan dan merasakan.
Pengetahuan Eksplisit adalah pengetahuan yang sudah terdokumentasi, seperti pengetahuan yang sudah di bukukan.

Mengenal Apa itu Pengetahuan Tacit dan Pengetahuan Eksplisit Beserta Contohnya

PENGERTIAN PENGETAHUAN TACIT DAN PENGETAHUAN EKSPLISIT

Tacit Knowledge adalah pengetahuan yang terdapat di dalam otak/pikiran kita sesuai dengan pemahaman, keahlian dan pengalaman seseorang biasanya pengetahuan ini tidak terstruktur, susah untuk didefinisikan dengan bahasa formal dan isinya mencakup pemahaman pribadi. Pengetahuan ini umumnya belum terdokumentasi karena pengetahuan ini masih ada pada keahlian atau pengalaman seseorang

Tacit Knowledge memiliki ciri khas yaitu:
  • Diperoleh dari pengalaman, pengalaman yang kita pernah liat, rasakan dan lakukan akan kita memahami pengalaman tersebut melalui percakapan yang kemudian kita cerna di dalam otak kita
  • Tidak mudah di komunikasikan / diberikan kepada orang lain karena sulit untuk di ekspresikan, karena minimal kita harus menggunakan media dalam penyampaian kepada orang lain.
  • Dapat di transfer secara efektif melalui person to person basis, yaitu pengetahuan yang di dapat oleh kita akan mudah untuk di transfer melalui percakapan dari kita ke orang lain.

Contoh Pengetahuan tacit misalnya gagasan, persepsi, cara berpikir, wawasan, keahlian/kemahiran.

Contoh dalam kehidupan nyata :
  • Ketika seseorang memasak, akan berbeda rasanya ketika memasak menggunakan buku resep sebagai panduan dengan memasak menggunakan intuisi, karena terkadang memasak dengan menggunakan intuisi akan terasa lebih enak karena dapat sesuai dengan selera.
  • Cara mengendarai mobil, akan sulit diajarkan jika hanya melalui teori, lebih baik mengajarkan secara praktek langsung kepada penerima knowledge.
  • Ada seorang chef yang sedang memasak kemudian mengutarakan beri saja garam "secukupnya" atau beri saja gula "secukupnya" kata secukupnya ini sulit untuk diutarakan karna orang tersebut tidak pernah mengukur seberapa banyak gula atau garam yang dibutuhkan.

Explicit Knowledge adalah pengetahuan yang telah dikumpulkan serta diterjemahkan ke dalam suatu bentuk dokumentasi sehingga lebih mudah dipahami dan disebarluaskan. Pengetahuan ini bersifat formal, sistematis dan mudah untuk ditransfer atau dibagikan ke orang lain dalam bentuk dokumentasi karena umumnya merupakan pengetahuan yang bersifat teori dimana memudahkan para ahli untuk membagi pengetahuannya kepada orang lain melalui buku, artikel dan jurnal tanpa harus datang langsung untuk mengajari orang tersebut.

contoh :
Pengetahuan tentang bahasa pemrograman yang terdefinisi dalam berbagai buku ataupun artikel mengenai hal tersebut.

Buku panduan matematika maupun fisika yang sudah dilengkapi dengan trik-trik untuk menyelesaikanya danr mudah dipahami.



Knowledge Management/Manajemen Pengetahuan...

Pendahuluan

Manajemen Pengetahuan (MP) dalam beberapa tahun terakhir ini menjadi suatu isu hangat bagi para profesional informasi dan perpustakaan. Banyak praktisi dari berbagai disiplin bersekutu dalam merangkul disiplin baru ini (Srikantaiah, 2000:1). Tingkat ketertarikan, pandangan, dan interpretasi mereka tentang MP tergantung pada lingkungannya yang mereka refleksikan dalam berbagai literatur. MP didefinisikan sesuai dengan kebutuhan masing-masing. Shouton and Todd (2001) menyatakan bahwa definisi MP masih terbuka dan adakalanya sangat problematis. Bahkan sejumlah penulis memandang bahwa MP masih merupakan suatu bidang yang sulit untuk diimplementasikan, yang masih memerlukan eksplorasi dan pengembangan yang signifikan.

Konsep MP berasal dan berkembang di dunia bisnis. Sebagai suatu konsep, MP diterapkan dengan tujuan untuk meningkatkan dan memperbaiki pengoperasian perusahaan dalam rangka meraih keuntungan kompetitif dan meningkatkan laba. MP digunakan untuk memperbaiki komunikasi di antara manajemen puncak dan di antara para pekerja untuk memperbaiki proses kerja, menanamkan budaya berbagi pengetahuan, dan untuk mempromosikan dan mengimplementasikan sistem penghargaan berbasis kinerja (Teng and Hawamdeh, 2002). MP kemudian juga dikembangkan dan diterapkan pada organisasi nirlaba seperti institusi pemerintah dan organisasi badan hukum lainnya. Di lingkungan perpustakaan, MP dipersepsikan mampu meningkatkan peran pustakawan secara substansial untuk mendukung program institusi induknya.

Perkembangan teknologi informasi khususnya Internet yang telah menjadi bagian integral dari kehidupan sehari-hari, membuat perilaku masyarakat pencari informasi mengalami banyak perubahan dan penyesuaian (Leng, 2004). Sumber daya elektronik yang tersedia melalui Internet menjadi sasaran pertama bagi para pencari informasi. Perpustakaan, yang secara tradisional merupakan penyedia utama sumber daya informasi, dihadapkan pada tantangan baru untuk menyediakan informasi yang relevan dan tepat waktu serta berasal dari banyak sumber. Dengan kata lain, perpustakaan ditantang untuk menyediakan seluruh spektrum informasi, tidak hanya terbatas pada pengetahuan eksplisit seperti yang telah dilakukannya selama ini. Pustakawan perlu mengeksplorasi konsep MP untuk diterapkan di lingkungan kerja perpustakaan untuk memenuhi tantangan baru tersebut.


Pengertian Manajemen Pengetahuan

Tema utama sejumlah penulis dalam berbagai literatur tentang MP adalah perihal kekaburan konsep manajemen informasi (MI) dan MP. Sejumlah profesional informasi dan perpustakaan yang disurvai oleh Shouton and Todd (2001), menganggap bahwa MP sederhana adalah ”MI dengan jubah baru” atau ”perluasan MI” atau ”MI yang diberi label menggairahkan”. Pustakawan masih percaya bahwa MP adalah pengelolaan informasi dan pengetahuan eksplisit atau terdokumentasi yang telah mereka lakukan sejak dulu (Koina, 2004). Chun (1995) mengatakan bahwa MI konsentrasi pada informasi formal, terstruktur, data internal, meninggalkan informasi informal, tidak terstruktur, dan eksternal yang dibutuhkan oleh banyak para pengambil keputusan.

Shouton and Todd (2001) lebih lanjut mengatakan bahwa terdapat perbedaan karakteristik di antara keduanya. MI digambarkan sebagai istilah yang bersifat teknis dan berorientasi pada pelayanan seperti: pengorganisasian informasi, proses dan sistem, akses terhadap informasi dan penyediaan informasi, serta temu-balik – suatu prakarsa yang dilakukan oleh organisasi. Sebaliknya, MP digambarkan sebagai istilah yang memiliki karakteristik yang berpusat pada manusia: berbagi pengetahuan, pemahaman, modal intelektual, interaksi, enabling people, dan penggunaan – suatu prakarsa yang menyangkut manusia di dalam organisasi.

Di sisi lain, banyak penulis yang menyarankan agar pemisahan menyeluruh antara MI dan MP harus dihindarkan. Mereka mengatakan bahwa MI yang efektif adalah penting bagi MP. Penekanan pada nilai pengetahuan tacit sebagai upaya besar yang tidak sukses dilakukan sejak 1980-an oleh mereka yang bergerak di bidang Kecerdasan Buatan dan Sistem Pakar untuk mengkodifikasi pengalaman dan keahlian pekerja. Persoalannya adalah bagaimana keahlian, pengalaman dan persepsi seseorang dapat ditransformasikan ke dalam pengetahuan yang dapat dibagi kepada orang lain untuk kepentingan organisasi. Sejumlah penulis juga sependapat bahwa pengetahuan tacit adalah sangat sulit atau bahkan tidak mungkin untuk diakses, dan mengelola pengetahuan sesungguhnya adalah mengelola pengetahuan eksplisit.

Walaupun definisi MP sangat beragam, tetapi pada umumnya menekankan pada pembedaannya dari manajemen informasi (Shouton and Todd, 2001). Definisi yang dibuat oleh Garner Group (Koina, 2004), dapat dijadikan sebagai panduan dasar. MP didefinisikan sebagai suatu disiplin yang mempromosikan suatu pendekatan terintegrasi terhadap pengidentifikasian, pengelolaan dan pendistribusian semua aset informasi suatu organisasi. Selanjutnya disebutkan bahwa informasi yang dimaksud meliputi database, dokumen, kebijakan dan prosedur dan juga keahlian dan pengalaman yang sebelumnya tidak terartikulasi yang terdapat pada pekerja perorangan. Saffady (2004:21) menyebutkan bahwa prakarsa MP menekankan pada nilai modal intelektual suatu organisasi termasuk: temuan baru, paten, rahasia dagang, formulasi produk, kecerdasan pelanggan, dan proses bisnis yang mapan. MP berkaitan dengan pengetahuan eksplisit, yang dikodifikasi dalam dokumen dan database, dan pengetahuan implisit, yang berwujud dalam pendidikan dan keterampilan pekerja.

MP juga memiliki hubungan erat dengan manajemen rekod (MR). Dari perspektif MP, informasi terekam adalah suatu perwujudan penting modal intelektual suatu organisasi. Informasi terekam adalah manifestasi utama pengetahuan eksplisit, yang diinternalisasikan dalam dokumen dan tempat penyimpanan data. Konsep dan aktivitas MR melengkapi dan mempromosikan MP. Dengan melakukan pengawasan sistematis terhadap siklus hidup informasi terekam, MR membuka jalan bagi MP. Prakarsa MP yang berhasil, merupakan persyaratan dan memperkokoh kepentingan strategis dan operasional kebijakan dan prosedur MR yang efektif (Saffady, 2004:21).

read more....



CV Blogger

Nama: Ahmad Rafiiuddin
TTL: Jakarta, 1 Desember 1995
Hobi: Futsal
Pekerjaan: Pelajar/Mahasiswa
Instansi: Universitas Islam Negri Jakarta (Sistem Informasi)
Skill: Programming (HTML dan CSS), Ms.Office (Word, Exel, PPt), and Playing Guitar.
Motto: Love What You Do, Do What You Love!